PELATIHAN PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA (RPB) DESA telah dilaksanakan bersama oleh Yayasan Bina Vitalis Bengkulu dan Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo. Kegiatan lapangan ini terselenggara berkat dukungan German Humanitarian Hilfe dan The Johanniter International Assistance.

Dalam proses persiapannya, kegiatan penyusunan RPB Desa, kedua lembaga bekerjasama dengan aparat pemerintahan desa, relawan dan masyarakat setempat. Pelatihan penyusunan RPB Desa mengambil tempat di 8 tempat selama periode bulan Juni 2015.

Banyak kegiatan Pengurangan Risiko Bencana telah diselenggarakan di wilayah-wilayah dampingan Yayasan Bina Vitalis dan Pansos Bodronoyo. Area pendampingan Pansos meliputi daerah Muko-muko (3 desa), Ketahun - Bukit Makmur (Ketahun), Unit I - Kurotidur, Desa Sidodadi - Kecamatan Pondok Kelapa. Sedangkan untuk Yayasan Bina Vitalis Bengkulu, cakupan kerja dan wilayah pendampingan terpusat di 10 desa, yakni Desa Pondok Kelapa, Abu Sakim, Harapan, Sunda Kelapa, Pasar Pedati, Pekik Nyaring, Sri Katon, Sri Kuncoro, Panca Mukti dan Talang Pauh. Kesepuluh desa ini terpusat di kawasan Kecamatan Pondok Kelapa.

Secara berseri laporan atas kegiatan tersebut akan kami muat dalam website ini; setelah maintenance selesai.

Tunggu laporan berikutnya.

 

Bengkulu, meruapakan wilayah Indonesia yang memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana, sering disebut dengan  daerah yang masuk dalam "ring of fire". Kerentanan tersebut diperparah dangan "memori pendek" warga masyarakat pada umumnya, sehingga soal bagaimana  menghadapi  bencana  yang sewaktu-waktu bisa datang tidak terbangun dengan konsisten dan berkelnjutan.

Bekerjasama dengan The Johanniter International Assistance, Bina Vitalis Bengkulu bergerak untuk menumbuhkembangkan kesiap siagaaan dan pengurangan resiko bencana.

Kelompok sasaran (target groups) kegiatan ini adalah wilayah/masyarakat di desa-desa pinggiran pantai  di Provinsi Bengkulu.

Tujuan kegiatan ini adalah:

  1. Mensosialisasikan peran  kelompok-kelompok masyarakat dalam menghadapi bencana
  2. Membangun kesadaran masyarakat dalam membangun ketahanan mengahadapi dan mengurangi resiko bencana.
  3. Mengembangkan strategi pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat/komunitas.


Kegiatan dilakukan melalui: diskusi-diskusi kelompok masyarakat, misalnya kelompok dasa wisma, kelompok swadaya masyarakat, juga lewat sekolah-sekolah untuk anak-anak.

Diharapkan dengan kegiatan ini, masyarakat selalu memiliki kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan dan masyarakat dapat berperan lebih optimal dalam menghadapi dan menurangi resiko bencana.

Dukungan yang diberikan oleh The Johanniter antara lain:

  1. ToT PRB dan Pertolongan Pertamauntuk fasilitator
  2. Logistik untuk kegiatan

Aku berhak menyatakan dan dihargai pendapatku

 

Anak, bukan sekedar barang milik orang tua atau orang dewasa yang boleh diperlakukan sesuka orang dewasa/orang tua. Anak mempunyai hak mendasar (azasi) yang sudah disepakati dalam bentuk kovenan tingkat internasional dan Indonesiapun sudah meratifikasinya.

Bahkan Indonesia juga sudah memiliki Undang-Undang tentang Perlindungan Anak.

Salah satu hak anak yang masih sering diabaikan adalah hak anak untuk menyatakan dan dihargai pendapatnya dengan alasan/dalih tradisi, adat, budaya dsb.Anak diposisikan sebagai yang belum memiliki hak, sehingga harus tinggal menurut saja pada kemauan orang dewasa.

Padahal dalam diri anak ada "dunia"nya sendiri yang tidak bisa tergantikan. Bagaimana orang tua memperlakukan anak, akan membentuk kepribadiannya.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

......

Jika Anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri dst, demikian tulis Doroty Law Nolte.

Read more...

Copyright © 2013 Bina Vitalis. All Rights Reserved.